Tampilkan postingan dengan label BATAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BATAK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2008

Balada Boru Batak

"Udah sama-sama Kristen, sama-sama Batak, masih kuliah...... .."GAK BOLEH! karena belom kerja."

"Udah sama-sama Kristen, Batak, kerja, dan sarjana..... ."GAK BOLEH! karena sarjana S1 doang."

"Huaaaa... Kristen, bukan Batak, S2......"GAK BOLEH! karena bukan Batak."

"Nggak Kristen, nggak Batak, tajirrrr.... "apalagi itu, GAK BOLEH BANGET!"

"Udah oke deh semuanya, tapi mamanya pernah berantem sama si anu..."GAK BOLEH! karena dianggap nggak good attitude."

"Pokoknya mantap deh, S1, lagi kuliah S2, tapi gajinya kecil..."GAK BOLEH! mau makan pake cinta?"

"Gajinya gede banget nih, tapi nggak ganteng..."GAK BOLEH! Ntar turunannya ga ada yang cakep, lagi..."

"Ganteng banget nih, tapi belom punya apa-apa..."GAK BOLEH! abis kimpoi mo tinggal dimana?"

"Kristen, Batak, S1, gajinya gede, ganteng, udah ada mobil sendiri, rumah sendiri, tp duda..."GAK BOLEH! ntar dicerein lagi..."

To all of you boru batak out there..... benarkah ini...... Sounds familier.... ????

Rabu, 09 Juli 2008

Kamus Medan ala marga marga

Pane : Payah Negok
Gultom : Gula Tomat
Tobing : Tolol Bigung
Purba : Pura Pura Baik
Ginting : Gila dan Sinting
Pasaribu : Pasangan Ibu Ibu
Hutajulu : Hubungan Jaman Dulu
Nasution : Nakan dan Suka Action
Lubis : Lubang Bisul dan
Luar Biasa
Harahap : Hari Hari Terus Berharap
Pakpahan : Nampak Paha Tak Tahan
Siregar : Sindikat Pedagang Agar Agar
Hasibuan : Habis Manis Sepah di Buang
Simanjuntak : Siang Malam Jualan Tuak
HUtahean : Hubungan Tanpa Ada Belaian
HUtabarat : Hubungan Tanpa Balas Surat
Tampubolon : Tahan Pukulan Namun Bloon
Simatupang : Siang malam Tunggu Panggilan
Tambunan : Tampilan Buncit Namun Menawan
Hutapea : Hubungan Tanpa Perasaan Apa -Apa
Sinaga : Situasi Nampak Gawat dan Sindikat Narkotika Ganja


GO BATAK GOooooooooooo..................Horas, 1000x..........!!!

Minggu, 25 Mei 2008

Pendekar Wanita Dari Tanah Batak

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pendekar wanita, Butet. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih. Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat.

Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang.

Naibaho ikan gurame yang dibakar dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan.

Ternyata jalan kesana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar, “Wow, Siregar sekali hawanya.” Berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang, warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun. Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban.

Terbawa suasana, mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam ikan yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiur melambai kayak di pantai.

Sedang asyik-asyiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar. “Sinaga!” teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis
Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar.

Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan. Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan. “Hm, biayanya Pangaribuan,” kata sang tabib setelah memeriksa sejenak.

“Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?” tawar si Butet.

“Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil”.

“Jangan begitulah. Masa’ tidak Siahaan melihat bibir saya begini?” Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan?”

“Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja,” sahut sang mantri agak kesal.

“Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah.”

Malamnya, ketika sedang asyik-asyiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-Bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi “Poltak!” keras sekali.

“Ada Situmorang?” tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan. Terdengar suara pelan, “Situmeangggg”.

“Sialan, cuma kucing,” desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen.
Selesai berlatih, Butet pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat.

Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: “Harahap tenang! Ada ujian.”

“Wah telat, emang udah jam Silaban sih”. Maka Siboro-boro dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi. Di-Tigorlah dia sama gurunya, ”Butet, kau jangan Siringo-ringo ribut! Bikin kacau konsentrasi temanmu.”

Butet dengan tanpa Malau-Malau langsung Sijabat tangan gurunnya, “Nggak Pakpahan guru? Sekali-sekali.”

Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejangan guru Pandapotan-nya untuk selalu “Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!”

Ini MEDAN, Bung...!!

Orang Medan spontan dan terbuka. “Bahkan paritnya pun terbuka,” kata doktor antropologi UGM. Istilah Ini Medan, bung muncul pada 1965.

Namun orang Medan tidak ingin dianggap enteng, sehingga muncullah istilah “gaya Medan” dan “Ini Medan, bung!” Padahal slogan ini bisa diartikan primitif. Orang medan itu spontan dan terbuka. “Bahkan paritnya pun terbuka,” kata Dr. Syafri Sairin, 46 tahun. Ia membandingkan dengan Yogyakarta. “Di sana paritnya tak ada yang terbuka. Artinya, orangnya juga tertutup,” katanya.

Doktor antropologi Universitas Gadjah Mada itu bicara di forum diskusi yang diselenggarakan Kelompok Koridor, dengan anggota dosen Fakultas Sastra USU, Medan, pertengahan November 1991. Selain dengan contoh tadi, ayah tiga anak itu menunjuk pemeo “Ini Medan, Bung” sebagai manifestasi “rasa tak aman” orang Medan. Ungkapan itu menyiratkan perilaku yang mengacu pada kekuatan fisik. “Menurut teori ilmu sosial, ini tergolong masyarakat yang masih primitif,” ujar anak Medan yang sudah 28 tahun merantau di Jawa ini.

Pengamatan itu, diakuinya, tak seluruhnya benar. “Dalam ilmu sosial tidak ada yang pasti. Ada warna lain di antaranya. Tapi ada yang menonjol, dan itu masalahnya,” katanya kepada Irwan E. Siregar dari TEMPO. Memang, ada kesan dari pemeo yang muncul sekitar tahun 50-an itu, bahwa orang Medan jangan dianggap enteng. Ini diutarakan M.Y. Effendi Nasution, 57 tahun, tokoh penumpasan PKI di sana, dan lebih dari sepuluh tahun memimpin organisasi pemuda yang banyak putus sekolah. “Celakanya, sikap tidak ingin dipandang enteng ini merebak ke soal yang pribadi juga, hingga konflik gampang disulut,” katanya kepada Affan Bey Hutasuhut dari TEMPO.

Potensi konflik itu tertanam sejak zaman Belanda. Pada masa itu wilayah permukiman dibagi atas dasar ras atau suku. “Dulu yang disebut warga Medan adalah mereka yang tunduk pada hukum kolonial,” kata Prof. Dr. Usman Pelly, 53 tahun. Menurut guru besar IKIP Medan itu, masyarakat dimaksud adalah keturunan Cina, Arab, India, dan Eropa -yang masuk ke sana sejak Jacobus Nienhuijs membuka perkebunan tembakaunya sekitar pertengahan abad ke-19.
Permukiman mereka itu kelak yang menjadi pusat kota. Ini tampak pada arsitektur yang kini masih tersisa. Kawasan yang didiami keturunan asing ini disebut gemeente Medan.

Sedangkan yang pribumi, seperti Melayu dan Jawa, secara administratif tak tunduk pada kolonial. Mereka di bawah kuasa Sultan Deli, hingga permukimannya disebut “Wilayah Sultan”. Ketika sudah merdeka, Medan menjadi kota terbuka. Beragam etnis masuk ke sini. Mungkin, buat menyesuaikan diri, mereka pun membuat permukiman mengelompok. Lahirlah perkampungan Orang Karo, Batak Toba, Minangkabau, dan pelbagai etnis lain yang menggelembung hingga kini.

Sebelum 1950, kelompok Toba 0,3% dari penduduk Medan. Dan 30 tahun kemudian menurut survei Usman Pelly, jumlahnya menjadi 15%. Lambat laun permukiman Cina terkepung. “Mereka terpulau,” ujar Usman. Karena tak mampu berbaur seperti halnya orang Arab atau India, mereka pindah dan membentuk kantung permukiman baru. “Di sini mereka menunjukkan sikap eksklusif, misalnya membangun pagar mirip benteng,” tambah Usman kepada Munawar Chalil dari TEMPO.

Dalam masyarakat majemuk ini paling tidak enam kelompok etnis dan ras yang dominan. Menurut penelitian, 1981, Usman menemukan 29,3% warga Medan adalah etnik Jawa, 15% Batak Toba, 14% Cina, 13% Mandailing Sipirok, 11% Minang, dan 8% Melayu. Selebihnya, Aceh, Sunda, Karo, India, dan beberapa suku lain, masing-masing di bawah 5%. Mereka inilah sekarang yang disebut orang Medan.

Tak peduli asal etnik, mereka kini mengumandangkan idiom baru, yaitu “Anak Medan”, terutama di rantau. “Bila ditanya asalnya, mereka jawab: Anak Medan,” kata Usman. Dalam nada kelakar, ia menjelaskan, orang Medan itu tak mudah mempercayai orang lain. “Mungkin, karena ia tak gampang dipercayai orang.”

Curiga tak berkeruncingan ini membuat orang Medan terpulau jika di luar. “Kalau merantau, ia mesti disosialisasikan lebih dulu,” kata Usman. Contohnya, anaknya ketika mencari tempat kos di Bogor. Beberapa rumah didatangi, selalu dijawab tak ada tempat. “Mereka menolak karena anak saya bilang dari Medan,” cerita Usman.

Situasi konflik yang diwarisi dari zaman penjajahan itu, menurut Syafri, membuat orang Medan merasa harus mengukuhkan identitas grup etniknya. “Ini bukan mendorong integrasi, tapi konflik,” ujarnya. Namun, konflik itu diakuinya penting. Secara politis, memang, perlu stabilitas. Artinya, jangan ada konflik. “Sebetulnya, konflik itu perlu untuk memacu dinamika,” katanya kepada Irwan E. Siregar dari TEMPO.

Munculnya semboyan “Ini Medan, Bung” sekitar 1965, menurut Syafri, mengandung sikap lebih unggul dari orang lain. “Cuma, sayang, hebatnya di bidang fisik,” kata Syafri. Ia sekali lagi membandingkan dengan ucapan khas Yogya, “Ini Yogya, Mas.” Itu berarti harus sopan dan bersikap intelek. “Dan Ini Medan, Bung berarti jangan main-main. Nanti saya pukul you,” kata Syafri.

Kesannya memang seram berurusan dengan orang Medan, sampai ada sebuah bank asing di Jakarta masih enggan membuka cabang di Medan. “Kalau tak memahami gaya Medan, ya, seolah berusaha di sana risikonya tinggi,” komentar Nyoman Moena kepada TEMPO.

Menurut Dirut PT Surveyor Indonesia dan salah satu pemrakarsa Bank Muamalat Indonesia ini, pengusaha Medan yang terdiri dari beragam etnis itu membuat suasana bisnis di sana jadi dinamis. Tapi tak berarti mereka meninggalkan etika bisnis. Satu bukti, menurut Nyoman Moena, kredit macet di Medan justru lebih kecil dibandingkan di daerah lain.

HORAS MEDAN, MAJU TERUS TANAH KELAHIRAN KU.. HORAS BAH HUMBANI NASIAM

Senin, 28 April 2008

Pak Pendeta dan Pak Ustad

Kita boleh berbeda agama dan saling “curiga”, tapi harus saling bantu dalam kesulitan hidup. Itulah pesan yang kuperoleh dari cerita berikut. Kisah ini dikirim oleh pembaca Batak News, Sahat Sipahutar, dari Bekasi. Dia pertama kali mendengarnya dari petugas ronda malam di RT 03/RW 014, Kota Legenda, Bekasi.

SYAHDAN, HIDUPLAH dengan rukun dua orang yang bertetangga; seorang pendeta dan seorang ustad. Walau mereka berbeda agama tapi dalam keseharian selama puluhan tahun Pak Pendeta dan Pak Ustad senantiasa saling membantu. Tak pernah mereka bertengkar. Satu sama lain tolong-menolong. Keduanya pun dijadikan teladan oleh warga sekitar.
Pendeta : Pak Ustad, saya mau melakukan pelayanan ke daerah pedalaman. Bolehkah saya meminjam mobil bapak?
Ustad : Tentu boleh, Pak Pendeta. Pakai saja, dengan senang hati kok.

Lalu si Pendeta pun melakukan perjalanan tugasnya dengan mengendarai mobil milik Ustad.
Sepulang dari pelayanan, kondisi mobil yang dipinjam itu sangat kotor dan penuh lumpur. Pendeta lalu membersihkannya, dan diguyur dengan air.

Dari teras rumahnya, Ustad melihat Pendeta yang sedang mencuci mobilnya dengan siraman air dari ember. “Wah, gawat, mobilku dibaptis,” pikir Ustad.
Pendeta : Pak Ustad, terima kasih atas peminjaman mobilnya. Semoga Tuhan memberkati bapak sekeluarga.
Ustad : Sama-sama, Pak Pendeta. Kalau suatu saat nanti Bapak perlu lagi, jangan sungkan-sungkan.
Pendeta : Baiklah, Pak Ustad, terima kasih.

Setelah Pendeta berlalu, Ustad segera mengambil gergaji dari gudangnya. Lalu dengan cekatan tangannya memotong knalpot mobilnya itu. Pikirnya, mobil itu sudah disunat dan diislamkan kembali setelah tadi sempat dibaptis oleh Pendeta.

Sumber :
http://www.blogberita.com/

 
ANAK YANG HILANG © 2007 Template feito por Templates para Você