Jumat, 23 Mei 2008

Saatnya Tubuh BIcara

Keberhasilan di dunia kerja tak hanya dipengaruhi oleh keahlian berbicara atau prestasi semata, tapi juga bahasa tubuh. Bahasa tubuh yang tepat bisa menjadi golden ticket Anda menuju kesuksesan karier.

Anda mungkin sering menemui seseorang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, namun tak mengalami peningkatan karier yang signifikan. Apa sih, yang salah? Jangan dulu berpikir atasan pilih kasih. Ia mungkin lebih pintar dari rekan yang lain, tapi bahasa tubuhnya tidak menunjukkan hal itu. Cara mempresentasikan diri dapat menentukan karier Anda.

Menurut para ahli, gerakan nonverbal lebih penting daripada kata-kata verbal. Ketika orang lain meragukan ucapan, dia akan menilai bahasa tubuh Anda. Komunikasi nonverbal dinilai lebih ekspresif, jujur dan akurat daripada komunikasi verbal. Jadi, bagaimana agar bahasa tubuh Anda memesona?

POSISI BERHADAPAN
Kalau Anda hanya berbicara berdua dengan atasan, maka posisi duduk berhadapan adalah sikap yang baik. Namun, kalau Anda memimpin rapat atau berbicara di depan orang banyak, berdiri akan lebih baik daripada duduk. Berbicara sambil berdiri mengesankan Anda lebih berwibawa dan menguasai keadaan. Sedangkan sikap duduk terus-menerus menunjukkan sikap yang defensif dan pribadi yang kurang semangat.

JARAK AMAN
Tiap orang memiliki zona nyamannya sendiri. Ketika berhadapan dengan lawan bicara, jangan mencondongkan badan berlebihan karena akan terkesan agresif. Saat menekankan poin penting, tunjukkan posisi santai, tapi kontak mata tetap terjaga dan gestur tubuh ekspresif. Jangan terlalu bersandar atau terus-menerus melihat ke bawah, karena bisa ditafsirkan Anda kurang percaya diri.

TERKENDALI
Usahakan menatap setiap orang dengan penuh perhatian. Tataplah mata mereka satu per satu selama beberapa detik. Jika lawan bicara merasa diperhatikan, secara otomatis mereka akan balik memperhatikan. Kendalikan nada dan cara bicara, jangan terlalu monoton dan datar agar lawan bicara tidak bosan. Tapi jangan pula terlalu berapi-api. Anda bukan sedang berpidato, lho. Lawan bicara juga akan sulit mencerna isi pembicaraan.

Bicaralah dengan santai, jangan terlalu pelan dan halus dan menggunakan terlalu banyak "ah" atau "uh" sehingga rasa gugup jelas terlihat. Hindari kalimat yang tumpang tindih karena menandakan Anda pribadi yang kurang well-organized.

BERI PERHATIAN
Saat Anda sedang dalam posisi mendengarkan, jangan mengetuk-ngetukkan jari, menggaruk-garuk kepala, menggigit kuku atau menatap ke sana kemari. Sikap seperti itu menunjukkan suasana hati yang sedang gelisah atau tegang. Tampilkan kesan Anda sedang menyimak dan memerhatikan perkataannya dengan cara menimpali dan mengatakan "he-eh", mengangguk, mencondongkan tubuh ke arah mereka, tersenyum atau mengikuti emosi lawan bicara, serta melakukan kontak mata.

EKSPRESI WAJAH
Selaraskan ekspresi muka dengan pembicaraan. Tersenyumlah saat mengatakan sesuatu yang lucu dan tetap jaga kontak mata. Pembicaraan pasti akan terjalin lebih hangat. Lawan akan menilai Anda sebagai pribadi yang hangat, terbuka dan jujur.

POSTUR DAN GESTUR
Meski tidak mengatakan apa pun, dari postur dan gestur mereka dapat menilai Anda. Orang yang meletakkan kaki di atas meja atau menyilangkan tangan di belakang kepala menandakan mereka terlalu percaya diri atau superior. Sebaiknya Anda rileks dan jangan kaku.

Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan kejujuran dan kredibilitas. Sedangkan menutup mulut dan melipat tangan di depan perut menunjukkan kesan menutup diri dan melindungi diri dari sesuatu yang salah. Gestur yang sebaiknya juga tidak diperlihatkan adalah bertopang dagu dan menguap. Sebab, Anda akan dinilai tidak bersemangat, tidak antusias, dan malas bertindak.

KOSTUM TEPAT
Pakaian yang dikenakan merupakan impresi pertama dari kepribadian seseorang. Busana yang Anda kenakan menandakan sejauh mana Anda melihat dan menghargai diri sendiri. Kenakan pakaian sesuai dengan kesempatan. Jika bertemu klien, pilih pakaian yang mengesankan profesional. Hindari mngenakan pakaian berbahan panas, ukuran yang kedodoran atau terlalu sempit. Sebab, bahasa tubuh Anda akan menunjukkan bahwa Anda sedang merasa tidak nyaman.

Bagaimana, sudah tahu kan, bagaimana berbahasa tubuh yang tepat?

Sumber : Kompas

Cara Sehat Memilih Calon SUami

Perkawinan adalah peristiwa sakral. Karenanya, banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah. Karena sukses perkawinan dianggap ikut menentukan mutu sumber daya manusia bangsa.

KENAPA SALAH PILIH?
Salah memilih teman hidup sering berawal dari kelewat cepat memutuskan bahwa dialah si ‘Mr. Right.' Kurang matangnya menentukan pilihan teman hidup, sebagian besar karena umur saat mulai berkencan kelewat muda, janji sehidup semati diputuskan ketika usia belum cukup dewasa, dan model pacaran yang permisif dan kelewat ngebut. Yang terjadi, seks berjalan mendahului cinta.

LUASKAN PERGAULAN
Kita tentu memiliki sosok pasangan ideal dalam otak kita. Nah, jadikan itu sebagai penyaring untuk menentukan siapa yang akan jadi teman spesial dalam bergaul. Lagipula, ideal bukan jaminan cocok menjadi pacar. Jadi, luaskan dulu pergaulan tanpa ada yang dijadikan teman spesial. Ini akan tetap membuka peluang untuk mendapatkan calon pasangan yang benar-benar pas.

BANGUN KEINTIMAN
Bangun keintiman selama proses pacaran. Artinya, perlu saling mengenal, menyesuaikan diri, mencocokkan diri antara dua pribadi dari dua latar belakang yang tidak sama. Agar proses menempuh keintiman berjalan mulus dan mencapai hasil ideal, kencan tidak boleh direcoki oleh unsur seks. Seks bisa memberi hasil yang bias, yang mengecoh seolah-olah cocok. Padahal, sebetulnya mungkin hanya dicocok-cocokkan. Apabila dari proses intimacy ternyata tidak pas dan banyak ketidaksesuaian, jangan ragu untuk tidak dilanjutkan.

TAK BOLEH LEWAT BATAS
Hukum seks bagi wanita "the point of no return". Apakah itu? Dalam gelora seksualitas, faal seksualitas wanita memiliki tabiat, akan tibanya pada suatu titik pasrah sempurna di saat detik-detik libido sudah di puncak. Sekali titik libido memuncak itu terlewati, yang tidak boleh terjadi akan terjadi juga. Agar titik di mana wanita akan terlambat dan tak mampu undur lagi, maka pacaran tidak boleh kelewat batas. Statistik menunjukkan bahwa perkawinan ‘kecelakaan seks' umumnya tidaklah selanggeng perkawinan yang diputuskan secara matang, karena biasanya buah dari keputusan yang masih mentah, dalam usia maupun kematangan proses kencannya.

Sumber : Nova

 
ANAK YANG HILANG © 2007 Template feito por Templates para Você