Selasa, 08 April 2008

7 Good Sign

Proses menunggu wawancara memang tidak menyenangkan. Jika jeli, sebenarnya ada tanda-tanda yang terlihat apakah wawancara berlangsung sukses atau gagal.

1. Berlangsung lama
Jika proses wawancara berlangsung lebih dari 30 menit apalagi sampai lebih dari jam, berarti Anda sangat dipertimbangkan untuk mengisi posisi itu.

2. Banyak bertanya
Si pewawancara aktif mengajukan pertanyaan seputar Anda dan riwayat pekerjaan Anda. Ini juga sinyal bagus, karena banyak bertanya tentang diri Anda mengindikasikan banyak informasi yang ingin mereka gali dari Anda.

3. Suasana nyaman
Suasananya cair, Anda tidak seperti sedang berada dalam situasi wawancara yang kerja yang kaku. Pewawancara pun terlihat lebih rileks. Ini menjadi sinyal positif dia merasa cocok atau nyaman, sehingga Anda dianggap bisa bekerja sama.

4. Umpan balik
Secara verbal pewawancara memberikan umpan balik. Misal, mengucap" saya tidak menyangka Anda mempunyai kemampuan itu." Sedangkan umpan balik secara fisik diperlihatkan dari kontak mata, tersenyum, memberikan dorongan, mengangguk, dan ekspresi wajah yang memperlihatkan persetujan dan pemahaman.

5. Nego gaji
Saat wawancara pertama, sudah terjadi negosiasi. Padahal biasanya negosiasi gaji terjadi pada saat wawancara berikutnya. Setelah wawancara pertama dianggap lolos.

6. Kepastian waktu
Biasanya jika mereka tertarik pada Anda, di akhir wawancara mereka memberi kepastian waktu kapan Anda akan dikabari lagi, misal, dengan mengatakan "dalam dua- tiga hari ini kami akan menghubungi Anda".

7. Menanyakan kesiapan
Pewawancara tidak menyuruh Anda menunggu, melainkan langsung bertanya kesiapan Anda bergabung bersama mereka. Jika statement ini keluar dari mulut pewawancara, sembilan puluh lima persen keberhasilan wawancara sudah berada di tangan Anda.

Bad Signs
1. Wawancara singkat
Mereka tidak akan berlama-lama melakukan wawancara jika dianggap kualifikasi Anda kurang cocok dengan posisi yang dilamar.

2. Menunjukkan keraguan
Contoh bahasa tubuh ragu-ragu, mencondongkan tubuhnya ke belakang dengan tungkai disilangkan dan lengan dilipat, atau menggaruk-garuk hidung.

3. "Nanti dikabari"
Kalimat "Nanti kami kabari lagi," merupakan ungkapan penolakan yang halus.

Sumber : Kompas

Sabtu, 05 April 2008

10 Sebap Pria Minder

JAKARTA, RABU - Minder memang tak kenal jenis kelamin dan usia. Siapapun bisa mengalaminya. Berikut, 10 sebab yang sering bikin pria minder.

1. Gemuk
He, ternyata mereka juga minder kalau kegemukan! Tapi konon pria overweight cenderung setia. Riset yang dilakukan di Jerman terhadap 1.000 pria menunjukkan pria overweight kurang suka berselingkuh. Maksudnya "peluang"-nya lebih kecil mungkin?

2. Small size
Meski ungkapan "size doesn't matter" begitu populer, pria tetap berharap memiliki ukuran vital yang besar. That's why Mak Erot laku.

3. Kondisi keluarga
"Saya tidak pernah mau menceritakan kondisi keluarga. Saya terlahir dalam keluarga berantakan. Ibu Saya menikah lagi dan ayah pergi entah ke mana." Bonzu, 27, lajang, pembuat film dokumenter.

4. Perempuan pintar
"Saya suka merasa kecil kalau ngobrol dengan perempuan pintar yang cara bicaranya well educated. Biar enggak minder, saya menggiring dia ngobrolin hal-hal yang sangat saya kuasai."Joko, 33, lajang, content developer.

5. Penampilan busuk
"Pede saya pasti drop jika datang ke suatu acara dengan penampilan busuk sementara tamu-tamu yang lain berpenampilan necis."Sofyan, 34, menikah, wiraswasta.

6. Pasangan populer
"Gimana enggak minder, saya merasa seperti bayang-bayang, antara ada dan tiada." Dimas, 33, menikah, karyawan swasta.

7. Materi kurang
"Saya pernah minder ketika dijodohkan dengan seorang perempuan yang mempunyai materi lebih dari saya. Di saat dia sudah membawa mobil sendiri, saya mas naik bus."Choki, 32, lajang, freelancer.

8. Perempuan tinggi
"Saya (sampai) melarang dia menggunakan sepatu berhak ketika jalan berdua."Yuldas, 35, lajang, wiraswasta.

9. Pasangan sukses
"Saya mendukung kesetaraan gender. Tetapi tetap saja saya enggan mendekati perempuan yang posisinya lebih tinggi, apalagi jika kami sampai satu kantor."Wenning, 24, lajang, marketing.

10. Tidak dibutuhkan
"Saya terpaksa berpisah dengan pasangan karena dia sama sekali tidak butuh saya. Dia tidak pernah minta uang, semua kebutuhan dan tanggung jawab bisa diselesaikan tanpa bantuan saya. Lama-lama saya jadi minder karena dia lebih berperan dari saya." Agung, 31, lajang, sales asuransi. (CHIC/Ika Nurul Syifaa)

Sumber : Kompas

 
ANAK YANG HILANG © 2007 Template feito por Templates para Você